Jutaan Buddha Penuhi Borobudur!

Kementerian Pariwisata RI mendapat dukungan penuh dari Komunitas Buddhist Internasional dalam rangka promosi Candi Borobudur.

23 September 2016 mendatang akan hadir 7 biku (pimpinan spiritual umat Buddha) dari Nepal, Bhutan, dan India akan mengunjungi Candi Muara Jambi dan Candi Borobudur selama sepekan.

Sedikit tentang sejarah Candi Muara Jambi. Seribu tahun yang lampau, candi ini merupakan komplek universitas tertua kedua dunia, Rabu (21/9/2016)

Pada saat itu berada dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan telah dikunjungi oleh para peziarah dari seluruh dunia (terutama dari seluruh kawasan Asia).

Menurut catatan sejarah, tercatat beberapa biku dari belahan dunia telah hadir dan menetap sekian lamanya menuntut ilmu di Candi Muara Jambi, antara lain Maha Guru I Ching yang menetap di pulau Sumatera selama 12 tahun sejak tahun 671.

Ia berhasil menterjemahkan beberapa kitab suci ajaran Buddha dari Bahasa Sanserkerta menjadi Bahasa Tionghoa.

Pada waktu bersamaan Maha Guru I Ching juga telah menyusun kamus bahasa Melayu – Tionghoa yang bisa dikatakan sebagai buku kamus pertama dunia yang pernah disusun secara tertulis.

Yang menarik perhatian komunitas buddhist internasional adalah, bahwa ajaran Buddha Tantrayana berakar dari Candi Muara Jambi dan Candi Borobudur.

Sebelum akhirnya diperkenalkan oleh Maha Guru Atisha yang menetap di Sriwijaya selama 11 tahun, sekitar tahun 1011 – 1023. Ia kemudian menyerap keagungan adat jawa disekitar Candi Borobudur.

Maha Guru Atisha membawa ajaran Buddhism dari Candi Borobudur dan Candi Muara Jambi menuju ke Tibet.

Ia menjadi Guru besar yang menerapkan ajaran-ajaran Tantrayana di masyarakat Tibet, yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh komunitas Buddhist Internasional.

Candi Borobudur merupakan destinasi khusus yang memiliki daya magnet yang luar biasa yang bisa memikat wisatawan religi untuk datang dan datang kembali dalam minat khusus Indonesia Buddhis Pilgrimage.

LEAVE A REPLY