bahayanya-mendaki-gunung-ijen-di-musim-hujan

Gunung Ijen miliki daya tarik karena pesona Kawah Ijen dengan api biru yang hanya ada di dua tempat di dunia. Tapi, datang ke sana di musim hujan bisa berisiko terhalang kabut belerang tebal yang bisa mematikan.

Belum lama ini, satu orang pendaki asal Bali menjadi korban meninggal setelah mendaki Gunung Ijen. Korban asal Kuta Selatan tersebut diduga tewas setelah menghirup gas sulfatara atau belerang usai berfoto di Kawah Ijen. Menurut temannya, korban sempat keluhkan sesak hingga pingsan.

Seperti dikutip dari video Seputar Indonesia, intensitas hujan yang tinggi memicu keluarnya gas belerang yang tebal. Meningkatnya asap belerang ketika cuaca hujan adalah kondisi alam yang harus diantisipasi setiap pendaki di gunung-gunung aktif.

“Saya dan keluarga saya pernah ke Gunung Ijen dengan tujuan melihat api birunya. Tetapi karena bulan Desember adalah musim hujan, maka pada saat di puncak angin sangat kencang di serta asap belerang sehingga kami tidak meneruskan perjalanan,” tulis salah satu reviewer Kawah Ijen di laman Trip Advisor.

Lokasi wisata yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur ini bisa ditempuh dengan mendaki gunung selama sekitar 2,5 jam. Api biru dapat dengan jelas terlihat ketika gelap, sehingga banyak pendaki mulai pendakian di tengah malam agar sampai sebelum matahari terbit.

LEAVE A REPLY