Transgender Hamil? Mitos atau Fakta?

Sebagian besar dari kita mungkin telah bertemu atau melihat transgender. Mungkin dibenak Anda muncul pertanyaan, bisakah seorang transgender hamil?

Ya, kita mungkin menyadari bahwa orang-orang transgender biasanya beridentitas gender yang berbeda dari saat mereka dilahirkan. Sebelumnya untuk diketahui, menjadi transgender atau transeksual dapat disebabkan masalah kondisi psikologis dan kondisi fisik.

Karena kelainan kromosom, beberapa orang terkadang lahir dengan pola kromosom yang tidak mengkategorikan mereka di bawah satu jenis kelamin. Sebagai contoh, transgender perempuan, saat dilahirkan seorang laki-laki, tetapi memiliki jati diri seperti perempuan, dilengkapi dengan kromosom ‘XY’ yang khas pada laki-laki, tetapi tidak memiliki rahim.

Sebaliknya, transgender laki-laki, dilahirkan sebagai perempuan, tetapi memiliki jati diri seperti laki-laki dengan kromosom XX yang khas pada perempuan, dan memiliki uterus serta ovarium. Namun, transgender laki-laki mungkin memiliki ciri-ciri seorang laki-laki tertentu, seperti suara yang nge-bass, bahkan memiliki kelamin pria yang kurang berkembang.

Bisakah seorang transgender hamil?

Transgender laki-laki dengan kromosom XX memiliki kemungkinan untuk hamil, karena mempunyai uterus dan ovarium. Namun, jika transgender perempuan ingin hamil, maka sejumlah prosedur medis harus dilakukan, seperti menanamkan embrio di perut dan pemberian terapi hormon.

Tapi, perlu diketahui, jenis kehamilan abdnominal pada transgender perempuan bisa sangat berbahaya dan mungkin mengancam nyawa. Karena, ada kemungkinan pertumbuhan embrio yang mempengaruhi organ sekitarnya.

Selain itu, transgender perempuan dapat mengalami komplikasi seperti kehamilan ektopik, di mana janin berkembang di luar rongga pengiringnya. Terlebih, transgender perempuan tidak mempunyai rahim yang dapat menyebabkan konsekuensi fatal jika tidak diobati.

Jadi, kehamilan hanya mungkin dilakukan pada transgender laki-laki, itu pun jika memiliki rahim dan ovarium yang berfungsi dan serta melakukan terapi hormonal. Artinya, mereka dapat berharap memiliki kehamilan yang cukup sehat.

Namun, karena sikap negatif terhadap orang transgender di masyarakat, banyak dari mereka mugnkin ragu-ragu untuk hamil dan memulai sebuah keluarga. Karena, mereka takut anak-anak mereka menghadapi konsekuensinya di lingkungan masyarakat.

LEAVE A REPLY