Minum susu sudah dianggap menjadi kebiasaan sehat. Namun, ada sejumlah mitos, sehingga terjadi kesalahpahaman tentang minum susu. Misalnya, anggapan tidak minum susu setelah mengonsumsi antibiotik, mitos atau fakta?

Ahli gizi dan olahraga, Deepshikha Agarwal mengungkap kesalahpahaman tentang minum susu akibat mitos yang berkembang. Berikut sebagaimana yang dilansir dari Thehealthsite:

1. Mitos: Kita tidak harus minum susu jika menderita batuk. Faktanya, tidak seperti yang selama ini diyakini, di mana anak-anak dianjurkan untuk tidak minum susu jika menderita batuk, dokter percaya bahwa minum susu ketika batuk tidak menyebabkan bahaya apapun. Bahkan, kehadiran nutrisi dalam susu dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh.

2. Mitos: Minum susu menghilangkan rasa pedas setelah makan. Faktanya, minum segelas susu setelah makan makanan pedas menghambat pencernaan. Bahkan, disarankan untuk minum setengah gelas susu setelah 30 menit makan makanan pedas untuk menurunkan produksi asam dan meningkatkan proses pencernaan.

3. Mitos: Jangan minum susu setelah minum antibiotik. Faktanya, tidak seperti kebanyakan yang dipercaya banyak orang, minum susu setelah mengonsumsi antibiotik tidak menghalangi penyerapan nutrisi dan tidak menurunkan efektivitas obat. Selain itu, susu yang kaya protein dapat meningkatkan kekebalan, sehingga membantu melawan infeksi.

4. Mitos: Minum susu setelah makan ikan menyebabkan bercak putih di kulit. Faktanya, tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung teori tersebut. Anda dapat minum susu dan makan ikan secara terpisah atau kombinasi. Tapi, hindari minum susu setelah makan ikan pedas, karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan atau asam refluks.

5. Mitos: Jangan minum susu jika menderita keasaman perut. Faktanya, tidak banyak orang yang tahu bahwa susu adalah obat alami terbaik untuk meredakan rasa panas dan keasaman perut. Anda harus minums segelas susu dingin setelah makan untuk menetralkan produksi asam berlebih.

LEAVE A REPLY