Hampir semua wanita menginginkan garis bikini yang mulus, tanpa ada bulu yang mengintip. Termasuk Jenni (nama disamarkan).

Dalam waktu 24 jam setelah melakukan bikini waxing di salah satu salon terkemuka di New York, ia mengalami infeksi. Jenni mengalami demam, menggigil, serta nyeri pada paha kirinya.

“Saya kira, saya akan akan sakit demam biasa. Ternyata setelah 5 hari, sakitnya lebih buruk dari itu,” ucapnya.

Dokter mendiagnosis dengan sebutan selulitis, infeksi bakteri yang berpotensi mengancam nyawa kulit dan jaringan bawahnya. Jenni menghabiskan waktu 1 hari di rumah sakit. Ia mendapat cairan antibiotik dan penghilang rasa sakit melalui infus.

“Seorang dokter mengatakan bahwa saya bisa kehilangan kaki saya!” ujarnya. “Butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih secara fisik dan emosional.”

Pengalaman pahit Jenni bisa menjadi sebuah pembelajaran. Bikini waxing punya efek samping yang fatal terhadap kesehatan. Bahkan seorang wanita dengan diabetes tipe 1 di Australia, pada 2007, hampir meninggal akibat infeksi setelah melakukan waxing.

“Rambut kemaluan yang tumbuh di area genital berfungsi untuk melindungi kulit sensitif dan selaput lendir di area tersebut,” jelas Linda K. Franks, M. D., asisten profesor klinis dermatologi di New York University School of Medicine.

Waxing juga dapat menarik lapisan terluar kulit. Padahal, lapisan tersebut merupakan portal untuk mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh.

Frank mengatakan, setiap kali Anda ingin mempercantik integritas kulit, Anda akan meningkatkan risiko infeksi. Ia menyarankan pada orang yang menderita diabetes, ginjal kronis atau penyakit liver, kondisi kulit eksim atau psoriasis, hingga mereka yang memiliki kelemahan terhadap sistem kekebalan tubuh, untuk tidak melakukan waxing sama sekali. Menghindarinya adalah cara terbaik menjauhkan risiko infeksi pada organ genital Demikian dilansir dari laman Womenshealthmag, Selasa (13/9/2016).

LEAVE A REPLY